Minggu, 14 Juni 2009

Anda Juga Bisa Menjadi Seperti Obama

Waktu itu Obama kecil melihat kerumunan anak-anak yang sedang mengerubingi seorang penjual balon. Balon itu berwarna-warni ada yang kuning, putih, merah dan sebagainya. Anak-anak kecil itu mmbeli beberapa balon dan dipegangnya erat-erat, kemudian penjual balon itu memberikan contoh kepada anak-anak itu dengan melepas balon yang telah diikat dengan tali yang panjang.

Pertama kali tukang balon melepas balon berwarna merah, kemudian balon tersebut terbang tinggi ssuai ukuran benang. Setelah itu balon kuning dilepas dan terbang. Kemudain bebeapa warna seperti merah biru dan dan sebagainya.

Obama kecil memberanikan diri mendekati tukang penjual balon dan bertanya, “Apakah balon yang berwarna hitam juga bisa terbang seperti balon lainnya?” Penjual balon tertawa terbahak-bahak dan menjawab, “Tentu bisa nak, bukan tergantung warna balon yang bisa terbang, melainkan apa isi balon tersebut.”
Obama kecil langsung membeli balon hitam dan dibawa lari pulang ke rumah.

Dari cerita tersebut anda tentu bisa mengambil kesimpulan bukan? Tidak peduli dengan latar belakang kita apa, yang penting ingin menjadi apa kita nanti. Presiden Obama telah membuktikan bahwa, Negara Amerika yang sejak dulu selalu memperbudak kulit hitam, dan bahkan seperti sesuatu yang tidak mungkin untuk seorang kulit menjadi orang nomor satu di Negara itu.

Seperti juga Mas Joko Susilo yang bukan orang yang mempunyai basic studi di computer dan internet, tetapi dia juga bisa menjadi seorang pioneer di dunia maya ini. Siapapun anda, jangan pernah berkecil hati walau anda tidak pernah mengenal apa itu internet, bagaimana itu bisnis melalui internet, karena saya sendiri pun masih sangat nol baik di dunia computer maupun di dunia internet ini.

Seperti Obama kecil, saya akan mencoba untuk belajar dan terus mengisi diri saya dengan angina yang tentunya bisa menerbangkan saya ke udara. Bisa terbang dan mampu memperoleh kebebasan waktu dan uang. Seperti judul blog saya, “ Menolak Untuk Kalah.” Saya yakin anda pun banyak yang ingin terus berjuang dan tidak mau kalah dalam kehidupan ini bukan?

Yang Jempolan atau Yang Kelingking ?

Pada tahun 1995 saya mendapat sebuah cerita dari teman saya yang saat itu barusan dari Kalimantan. Pada waktu itu masih jarang sekali orang yang pergi dan kembali dari Kalimantan naik pesawat. Ketika itu dia melalui kapal laut yang memerlukan beberapa hari di kapal. Suatu sore teman saya bertemu dengan seorang wanita cantik yang memakai cincin-cinnya di semua ibu jarinya.

Karena penasaran teman saya bertanya kepada wanita tersebut, “ Mbak, biasanya orang itu kalau pakai cincin kan selalu di jari manisnya, tapi kenapa mbak memakai semua cincin di ibu jari semua?” Sambil tersenyum perempuan itu menjawab,

“Ini ada ceritanya mas, Dua tahun lalu saya kehilangan bapak yang sangat saya cintai karena waktu itu dia sakit keras dan saya tidak bisa berobat ke dokter karena suami saya tidak punya uang maka saya obatin ke alternative dan tidak berhasil. Tiga bulan lalu suami saya juga meninggal dunia karena sakit dan lagi-lagi terbentur masalah biaya. Sebagai pengingat semua itu, cincin saya pakai di jempol, agar kalau nanti saya cari suami lagi harus yang jempol an bukan yang kelingking, he he he….”

Dari cerita itu mungkin anda bisa menyimpulkan bukan? Bahwa semua itu UUD alias Ujumg-ujungnya Duit. Sebenarnya dari cerita diatas bukan perempuan tadi yang materialistis, begitu anda juga bukan orang yang materialistis, karena kalau keluarga sakit yang ditanyain pasti punya uang enggak untuk beli obat. Kalau anak mau sekolah tempat yang bagus tentu punya uang nggak untuk bayar uang muka dan bulanan, dan sebagainya.

Perempuan tadi sudah memutuskan dalam hidupnya untuk tidak menyerah kalah dan terus berusaha mendapatkan kemenangan. Oleh karena saya juga tidak mau kalah, maka saya terus belajar dari mentor saya Pak Mahkfud Irfan di Jakarta juga untuk bisnis internet kepada Mas Joko Susilo. Mereka adalah mentor-mentor saya. Saya tidak mau memberikan kelingking untuk keluarga saya, tetapi saya tidak mau kalah dan terus berusaha agar bisa memberikan yang jempolan bagi keluarga saya. Saya yakin anda juga setuju bukan? Keluarga adalah yang utama?